Impian yang Membutakan

Humaniora kehidupan

 

Setiap orang mempunyai mimpi, Kita semua tahu itu. Apapapun profesinya, Umurnya, Gendernya semuanya mempunyai mimpi. Mimpi untuk bangun dan untuk terus hidup dalam kebahagiaan. Memiliki sebuah impian bukanlah hal yang sulit, memilih impian pun adalah hal yang gratis, tidak mengandung resiko karena ia hanya bermimpi. Sama halnya ketika kita bertanya kepada anak-anak SD tentang apa impian mereka, spontan mereka akan menjawabnya dengan lantang.

Namun, beda halnya ketika kita menanyakan kepada pedagang kaki lima, tentang apa yang direncanakannya untuk 5 tahun kedepan nanti. Karena mereka masing-masing mempunyai pikiran dan paradigma yang berbeda mengenai impian. Akan tetapi coba kita lihat Donald trump, Robert T kiyosaki, Steve jobs atau Bill gates sekalipun, apa yang membuat mereka kaya? Apakah seluruh keyaan yang mereka dapat sekarang ini didapat dengan kebetulan semata? Apa dahulu mereka pernah terjatuh? Lantas apa yang membuatnya bangkit kembali hingga menjadi milyader seperti sekarang ini? Jawabanya adalah : Impian.
Masing-masing dari kita mempunyai impian bukan? Sebelum kita membahas makna tentang impian lebih dalam. Mari kita simak cerita ini terlebih dahulu.

www.thecrispycorner.com

www.thecrispycorner.com

Impian yang membutakan

 

Dahulu ketika SMA, aku melaksanakan tugas Pesantren kilat di salah satu Sekolah dasar tepatnya di kabupaten Indramayu. Diawal menjalankan tugas, aku dan teman-teman tidak merasa bosan dan lelah. Karena apa yang kita berikan selalu mereka terima dengan antusias. Tak ada hari yang kami lewatkan tanpa canda tawa disana. Semua riang, bahkan anak yang jarang masuk pun ketika kami bertugas disana mereka selalu masuk full 1 minggu tanpa absen. Sungguh hari-hari yang indah bagi kami.

Namun, sampai suatu ketika kita kehabisan materi untuk kita ajarkan kepada murid-murid. Kita pun kewalahan. Murid-murid yang tadinya semangat dan antusias, kini berubah frontal menjadi rewel dan minta pulang. Akhirnya muncul suatu ide untuk bercerita. Kami bercerita mengenai latar belakang masing-masing, motivasi untuk belajar dan juga tentunya, impian. Ketika asyik bercerita, tersisip sebuah ide di dalam benak-ku untuk bertanya kepada anak-anak tentang impian masing-masing. Lalu dengan adanya pertanyaan ini antusiasme mereka pulih. Satu persatu menjawab dengan lantang, polisi, tentara, pilot, dokter dan sebagainya. Namun tidak dengan satu anak ini, ia tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia hanya terdiam tak bergeming. Seolah-olah ia tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Dan akhirnya, aku pun mendekatinya dan menanyakan tentang impiannya. Dengan lirih ia menjawab.

“saya mau jadi pencetak bata aja kak.”

Pertanyaan itu mebuat seisi kelas tertawa, tertawa karena jawaban aneh yang ia sampaikan tadi. Hatiku bertanya-tanya, apakah yang ia katakan barusan tadi? Apakah ia bercanda? Melihat ekspresi wajahnya ia tidak kelihatan sedang bercanda sama sekali. Ia pun berkata lagi.

“Bapak saya pencetak bata, kata bapak saya jadi orang gausah pengen yang aneh-aneh. Kaya bapa aja udah cukup” begitu katanya.

Jawaban yang cukup menyayat hati memang mendengar pernyataan tadi. Pernyataan yang diucapkan oleh seorang bocah seumuran Sd. Bayangkan, ketika kecil saja sudah berpikiran seperti ini. Apatah lagi ketika ia beranjak dewasa nanti? Pernyataan ini masih menyisakan beribu pertanyaan di dalam hatiku.

 

Tuhan tak takdirkan kita miskin !

 

Jika kita beranggapan bahwa miskin adalah nasib kita, pada hakikatnya kita telah menyalahkan Allah. Apakah Allah tega dengan begitunya men-takdirkan kita untuk miskin? Lalu bagaimana kita bisa berzakat, pergi haji jikalau kita miskin? Jawabannya tidak, Allah Maha pengasih dan Maha penyayang. Allah selalu memberikan nikmat sesuai dengan usaha hambanya.

Coba kita pikirkan kembali, apa yang dilakukan oleh para shahabat-shahabat terdahulu. Mereka berinfaq di jalan Allah dengan jumlah yang sangat luar biasa. Bagaimana mereka bisa berinfaq dengan begitu dahsyatnya di jalan Allah? Apa mereka miskin? Tidak. Rasulullah pun kaya, namun ia mengajarkan kita arti kesederhanaan. Ia tidak mengajarkan kita untuk menjadi orang yang miskin. Ia juga mengajarkan Zuhud (tidak cinta dunia) lalu apakah dengan kaya kita tidak bisa berzuhud?

cats

Ingatlah sobat, dengan memiliki harta yang lebih insyaallah kita dapat lebih mudah untuk berbuat kebaikan. Apakah kita mau, ada lagi saudara kita yang disana yang menjadi murtad hanya demi sekardus Mie instan. Apakah kita mau banyak saudara kita disana yang mati karena kelaparan. Sesungguhnya menjadi kaya itu bukanlah hal yang buruk . Maka dari itu marilah ubah pola pikir kita, seperti pola pikir Umar bin khattab, Usman bin affan yang memiliki harta yang berlimpah untuk di infak-kan di jalan Allah.

Leave a Reply