Dakwah Anti Mainstream: One Finger Movement

     One Finger Movement, mungkin akan terasa asing bagi kita. Namun, dikalangan anak “METAL” tentunya ini menjadi hal yang luar biasa. Jangan berprasangka buruk dulu dengan komunitas yang satu ini. Meski tampil dengan gaya urakan, tapi mereka mempunyai prinsip yang sangat luar biasa. Disaat adzan berkumandang bersamaan dengan aktivitas panggung mereka, maka mereka tak sungkan untuk shalat berjamaah bersama para Fansnya. Lantas apa itu One Finger Movement?

       One Finger Movement adalah komunitas Metal Tauhid yang beridiri pada tahun 1999, bukan karena “METAL” nya yang menarik. Tapi juga prinsip mereka yang islami, tidak satanis dan tidak ke Barat-baratan. Mereka tetap melaksanakan shalat, zakat, puasa, dan rukun islam lainnya. Lirik mereka  bukan pula anti Tuhan, memuja setan dan pro zionis. Namun, lirik mereka  bersumber dari sirah nabawi, Al-qur’an dan Hadits. Dan perlu kita ketahui mereka, mereka juga menyebarkan dakwah melalui musik.

Ombat, salah satu personil Tengkorak mengatakan bahwa, gaya mereka bukan metal ala barat. Mereka berbeda dalam hal eksepsional maupun attitude (akhlak). Tak seperti pada komunitas metal pada umumnya, Mereka pun tetap menjalankan aturan-aturan islam. Seperti shalat, zakat, bahkan mereka pun menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama.

Lalu apakah pandangan islam tentang Musik ? Sebelum itu mari kita bahas dulu komunitas yang satu ini.

Melawan faham zionisme

sholat-ketika-kongser-band-rock

shalat berjamaah ketika konser

Salah satu personil tengkorak, Ombat saat di jumpai majalah SABILI, mengatakan bahwa untuk menghancurkan negeri-negeri Muslim (di indonesia khususnya) tak perlu lagi dengan perang fisik, senjata ataupun bom nuklir. Tapi cukup dengan Gazhwul Fikr (perang pemikiran), seperti  dengan  obat-obatan terlarang, film porno, media, gaya hidup yang sangat urakan, termasuk dengan musik.

Kesadaran itu tergugah tatkala ombat didatangi oleh Media Barat, saat hendak mewawancarainya. Awalnya ia hanya ditanya seputar musik, personil dan kareer band tersebut. Sampai disatu bagian, reporter barat mengungkapkan hal yang sangat mengejutkan

“ perang itu banyak bentuknya. Untuk menjajah negeri ini cukup dengan budaya.”

Dari situlah ombat sadar akan teori konspirasi budaya barat. Semenjak itu ombat memulai mencari tahu tentang keislaman, dan dari situlah ombat mendapatkan hidayah.

   Bukan rahasia umum lagi, kencangnya pengaruh musik beraliran keras dari Barat, selalu menyisipkan misi. Ada agenda didalamnya yang tersembunyi  untuk merusak moral generasi muda. Ideologi anti negara, anti agama, adalah tema yang paling banyak diusung oleh para musisi Barat dari berbagai macam jenis aliran seperti metal dan lainnya.

   ”Musik memang membuat kita lalai, banyak mudharat ketimbang manfaatnya. Tapi kita harus tahu, ketika ada kekuatan besar untuk menghancurkan moral, kita tepis dan lakukan perlawanan dengan attitude. Kita tunjukkan bahwa kita beda dengan mereka. Itu saja membuat mereka merasa frustasi dan gagal. Mereka pikir, kita anak-anak metal, yang bisa dicuci otaknya. Intinya, musik boleh saja, tapi jangan sampai mengikuti mereka dengan  satanisme sebagai ideologinya. Ketika kita beda, fenomena yang muncul adalah anak metal pun shalat. Fenomena itu muncul sejak awal 2000, berkembang hingga sekarang,” tukas Ombat

Dakwah ala Anak Metal

one finger movement

         Bagi aktifis dakwah, mungkin tak ada yang tahu. Bahwa ternyata ada ruang untuk mengisi hati anak Metal itu sendiri sebagai sasaran dakwah. Yang kita tahu, metal hanyalah sebuah ideologi musik yang identik dengan satanis, kerusuhan, pemuja setan. Namun, siapa sangka anak-anak metal ini pun religius, dan sekali lagi anti Zionis.

          Tentunya pola dakwah mereka berbeda dengan dakwah yang di sampaikan pada umumnya. Adalah Ombat (personil band Tengkorak) dan Thufail al ghifari (vokalis The Roots of Madinah) – lama mengisi ruang dakwah ini dengan bahasa yang mereka pahami. Meski idak berdakwah layaknya kiai dengan santrinya. Thufail, Ombat sesungguhnya sedang berdakwah di tengah komunitasnya yang unik.

        Mereka tidak berdakwah seperti cara Aa’ gym memberi nasihat dengan bahsa yang verbal. Bagi mereka, seorang Aa’ Gym pun jika di hadirkan di komunitas Metal sekalipun, boro-boro mereka akan mendengarkan nasihatnya. Namun, jika yang mendakwahkannya mengerti cara mereka, menggunakan bahasa mereka. Tentunya mereka akan lebih “RESPECT” bila dibandingkan dengan bahasa verbal tadi. “Memberi contoh adalah dakwah yang paling efektif, dari pada perintah” tukas thufail.

        “Yang jelas, kalo ngaji kita masing-masing. Kami ngaji dimana saja. Jika ada taklim, gurunya Ust Abu Bakar Ba’asyir, gue datang, artinya kita nggak akan geblok. Di sini, khilafiyah tidak berlaku. Kalo nggak kaya gitu, kapan bersatunya. Insya Allah, kita ingin memberikan contoh, bahwa musisi pun bisa bersatu karena adanya persamaan akidah. Perbedaan aliran musik bukanlah alasan , tapi lebih kepada segmennya saja. Pas ngumpul, selain main musik, kita biasanya berdiskusi membahas hal-hal yang sifatnya pengetahuan. Di Masjid Al Azhar jakarta, kami silaturahim antar musisi,” tandas Ombat. Ia mendesain gambar bajunya sendiri tentang hal-hal yang berbau islami seperti jihad, perang pemikiran (ghazwul fikri) dan anti Zionis.

Metal Muslim

one1

     Dalam sebuah diskusi di Universitas Islam Negeri (UIN), Thufail al Ghifari pernah ditanya oleh mahasiswa disana, kenapa harus bermetal-metal ria? Dengan gampang ia menjawab, ”Gue hidup di lingkungan orang-orang awam. Tapi se-metal-metal gue, bila adzan berkumandang, gue pasti break, terus shalat. Dan tradisi itu gue salurkan kepada temen-temen yang lain. Se-metal-metal gue, jika Palestina dizhalimi, gue sakit hati. Bagi gue, masalahnya bukan pada label seseorang, tapi bisakah mempertahankan nilai-nilai prinsip dalam diri kita? Mengajak orang lain pada kebaikan itu bukan hal yang mudah. Mending gue cap sebagai orang awam, daripada ber labelkan aktivis, tapi gue nggak bisa ngajak temen-temen gue yang masih awam disana. Gue berharap, waktu kita jangan kita habiskan untuk berdebat, tapi berbuat, bukan pula dengan wacana yang tidak penting.” tukasnya

”Salah, kalau ada yang bilang bahwa musisi underground itu dari lapisan keluarga rendah dan anak jalanan. Mereka adalah orang-orang menengah ke atas. Mereka datang dari kalangan yang berpendidikan, bahkan ada yang berprofesi sebagai pengacara dan jaksa. Ketika visi-misi itu terjalankan, mereka tularkanlah kepada komunitas underground lain yang belum tersentuh keislamannya,” ujar Ombat.

Pandangan Islam Terhadap Musik

   Ulama terkemuka Dr. Yusuf Al-qardawi dalam Menjelaskan bukunya “Al-halaal wal haraam” bahwa, musik diperbolehkan dengan sejumlah syarat. Menurutnya sejumlah ritual keagamaan yang dijalankan oleh umat islam pun mengandung musik. Salah satu contohnya adalah nada alunan adzan dan Ilmu Qiraah.

     Berbeda dengan Dr. Yusuf Al-qardawi, Al-bani melarang umat islam untuk bermusik. Ia mendasarkannya pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. “Akan ada dari ummatku kamu yang menghalalkan zina, memakai sutra, minum minuman keras dan alat-alat musik.”

   Secara umum, umat Islam memperbolehkan musik. Bahkan, di era kejayaannya pun umat Islam mampu mencapai kemajuan dalam bidang seni musik.

  Dengan dali-dalil diatas, mungkin ada yang bertanya diantara kita. Bagaimana dengan lagu-lagu yang isinya bertujuan untuk mendakwahkan manusia kepada kebaikan?.

    Ya benar, hal itu memang mengandung kebaikan. Tapi menurut siapa? Jika Allah dan Rasul-Nya menganggap hal itu adalah baik dan menjadi cara yang baik dalam berdakwah. Maka itu akan bermanfaat nagi kita di akhirat kita kelak. Namun bagaimana jika Allah dan Rasulnya menganggap salah apa yang kita anggap benar?

    Semuanya kembali kepada niat kita masing-masing. Mendakwahi anak-anak metal zaman sekarang ini adalah hal yang sulit untuk dijalankan. Lantas bagaimana dengan mereka (anak-anak Metal) akankah kita diam saja dalam golongan kita masing-masing. tanpa merangkul mereka kedalam jalan yang benar?. Sesungguhnya semua amalan itu diawali dengan niat. Niat yang baik akan berdampak pada hal yang baik pula. Coba marilah kita renungkan kembali dalam-dalam niat kita. Apakah diri ini sudah memiliki niat yang benar dalam bermusik?. Perbaikilah niat, Sesungguhnya Allah itu sesuai dengan prasangka hambanya. 🙂

Wallahu ‘alam bi shawab

Leave a Reply