Perkembangan Islam pada Masa Modern

Perkembangan islam pada masa modern, tertunya menjadi hal yang wajib kita ketahui sebagai ummat islam. Perkembangan Islam dari awal kemunculannya terus menunjukkan dinamisasi yang tiada henti.

Dimulai dari penyebarannya secara sembunyi-sembunyi, Islam terus berkembang dan memberikan guidance dan teladan yang baik bagi kaum muslimin secara khusus dan manusia secara keseluruhan.

Meski telah melalui belasan abad dan puluhan peradaban, Islam semakin berkembang dan dapat diadopsi secara utuh, hingga tetap relevan dengan pedoman dalam berkehidupan.

Sejak kelahirannya yang ditandai turunnya wahyu pada Nabi Muhammad SAW, Islam terus menjadi penutup perintah kenabian yang sempurna dan utuh.

Dalam perjalanannya, Islam telah melewati tiga fase perkembangan. Fase pertama ialah fase klasik atau disebut juga dengan fase keemasan.

Masa ini berlangsung selama 600 tahun, sejak 650 M hingga 1250 M. Inilah fase kejayaan umat Islam, terbukti dengan luasnya wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah hingga menguasai sepertiga bumi. Pada masa klasik ini, Islam berada di puncak kejayaan.

Antara negara Islam terjadi integrasi wilayah dan terkoneksi pada satu komando dari pusat pemerintahan. Pada waktu itu, Islam juga banyak menelurkan tokoh dan ilmuwan yang menginspirasi sains dan teknologi modern.

Sayangnya, sejak abad ke-11 mulai terjadi beberapa friksi dan perpecahan pada kekhalifahan. Hingga puncaknya pada tahun 1258, terjadi pembantaian dan penghancuran Kota Baghdad oleh Hulagu Khan.

Setelah terjadinya keruntuhan Khilafah di Baghdad, masuklah pada fase kedua yang dikenal dengan periode pertengahan.

Masa ini berlangsung hingga abad ke-19. Pada era pertengahan ini, terbagi menjadi dua: Fase pertama yaitu fase kemunduran (tahun 1250 sampai 1500) dan fase kemajuan (tahun 1500 sampai 1800).

Pada fase pertama dari periode pertengahan, terjadi desentralisasi dan disintegrasi yang semakin menguat. Banyak wilayah yang kemudian memisahkan diri dan mendirikan kerajaan masing-masing.

Kemudian pada awal abad 16, mulailah fase kemajuan ditandai dengan berjayanya tiga negara, yaitu kerajaan Safawi di Persia, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughaldi di India.

Setelahnya, tibalah periode modern yang diawali pada tahun 1800 M. Masa ini disebut juga dengan masa pembaharuan, karena masa ini adalah momentum kebangkitan kaum muslimin di berbagai bidang.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas perkembangan yang terjadi di era modern hingga sekarang.

 

Perkembangan Islam Pada Masa Modern (Tahun 1800 – Sekarang)

Dalam kacamata sejarah dunia, Islam telah menjajaki masa pembaharuan modern yang dimulai pada awal abad ke-19 atau tahun 1800.

Perkembangan dan pembaharuan Islam pada masa modern ini ditandai dengan mulainya rasa sadar umat Islam pada waktu itu terhadap berbagai kelemahan, khususnya pada bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Pada awal masa pembaharuan modern ini, lahir beberapa tokoh pembaharu Islam di berbagai belahan negara.

Secara keseluruhan pada status politis, pada waktu itu Islam masih berada di bawah tekanan kolonialisme barat. Hingga pada pertengahan abad ke-20, satu persatu negara Islam mulai bangkit dan mendeklarasikan kemerdekaan.

Adapun beberapa negara Islam atau negara dengan penduduk mayoritas umat Islam yang memerdekakan dirinya dari penjajahan pada pertengahan abad ke-20 antara lain:

  • Republik Arab Suriah, pada tanggal 14 Mei 1940
  • Republik Lebanon, pada tanggal 22 November 1943
  • Negara kesatuan Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945
  • Republik Islam Pakistan, pada tanggal 15 Agustus 1947
  • Negara Libya, pada tanggal 24 Desember 1951
  • Republik Arab Mesir, pada tanggal 23 Juli 1952
  • Kerajaan Maroko, pada tanggal 7 April 1956
  • Malaysia, pada tanggal 31 Agustus 1957
  • Republik Irak, pada tanggal 14 Juli 1958
  • Republik Demokratik Rakyat Aljazair, pada tanggal 5 Juli 1962
  • Negara Brunei Darussalam, pada tanggal 1 Januari 1984
  • Republik Azerbaijan dan Republik Uzbekistan, pada tanggal 30 Agustus 1991
  • Republik Tajikistan, Republik Federal Kazakhstan, Republik Kirgiz (Kirgiztan),  pada tangggal 25 Desember 1991

Setelah seluruh negara muslim atau negara dengan mayoritas berpenduduk muslim mendeklarasikan kemerdekaan, mulailah dibentuk beberapa perkumpulan, konferensi maupun organisasi negara Islam.

Perkumpulan ini dibentuk secara khusus untuk memberdayakan dan memaksimalkan peran negara Islam dan negara berpenduduk muslim di era modern.

Pada tanggal 25 September 1969, untuk pertama kalinya para pemimpin negara Islam bertemu dan berunding. Konsen yang dibahas pada konferensi perdana itu adalah reaksi terhadap pembakaran Masjidil Aqsa yang dilakukan oleh ekstrimis nasrani dan yahudi, sebulan sebelumnya.

Hingga saat ini, OKI telah memiliki 57 negara anggota dan tersebar di seluruh dunia. Bahkan beberapa negara yang tergabung dalam Oki bukan merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim.

Perintisan OKI bisa dibilang menjadi salah satu pemicu besar yang mempengaruhi peran kaum muslimin dalam melahirkan perkembangan di berbagai bidang.

 

Contoh Perkembangan Islam pada Masa Modern

Belakangan ini Islam semakin berkembang dan menunjukkan eksistensinya. Beberapa bidang krusial dapat berkembang dengan baik beriringan dengan syariat Islam yang dijalankan.

Bahkan beberapa negara Islam sudah mulai terlihat menuju status negara maju dan menyusul dari ketertinggalan.

Beberapa bidang krusial yang tak luput dari sentuhan perkembangan Islam antara lain adalah bidang politik, agama, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya.

Perkembangan Islam di Bidang Politik, Agama dan Ekonomi

1. Perkembangan di Bidang Agama

Revolusi industri dan perkembangan teknologi di masa modern memberi landasan intelektual bagi pembaharuan di berbagai bidang.

Tak terkecuali dengan agama dan pemikiran, khususnya Islam. Dalam istilah Arab, pembaharuan pada agama disebut dengan tajdid.

Tajdid diformulasikan sebagai salah satu solusi untuk menyesuaikan kehidupan kaum muslimin dari keadaan yang sedang berlangsung kepada suatu kondisi yang diharapkan.

Adapun penyesuaian tersebut dilakukan demi terciptanya kesejahteraan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Pelaksanaan tajdid juga dilakukan agar kaum muslimin kembali pada koridor yang utuh dan sesuai dengan apa yang dibawa para risalah 16 abad yang lalu.

Pembaharuan ini juga dilakukan sebagai bentuk pemurnian. Mengingat Seiring berjalannya waktu dan bercampurnya beragam budaya serta hal-hal tidak diajarkan oleh Islam.

Pembaharuan Islam memiliki makna modernisasi, yaitu ajaran Islam yang adaptif.

Pembaharuan Islam melahirkan stigma baru terhadap Islam yang bersifat relatif, terbuka untuk perubahan, toleran, namun tegas pada pokok dan prinsip ajaran inti yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Salah satu pelopor terbesar dalam pembaharuan Islam di era modern adalah ajaran wahabiyah. Wahabiyah didirikan oleh seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787 M).

Di abad ke-19, ajaran wahabiyah mempengaruhi sebagian besar pemikiran dalam pembaharuan Islam di hampir setiap seluruh negara Islam.

Awalnya, wahabiyah terbentuk karena Syekh Muhammad bin Abdul Wahab merasa terpanggil untuk memperbaiki kedudukan Islam.

Selain itu, syekh Muhammad bin Abdul Wahab juga merasa paham tauhid yang di bawa oleh Rasulullah SAW telah terkontaminasi oleh ajaran tarikan yang dinilai sudah melenceng.

Beliau pun segera menyusun beberapa pokok pemikirannya untuk memperbaharui kedudukan Islam pada pemikiran kaum muslimin. Beberapa inti dari ajaran wahabiyah fokus pada pemurnian tauhid, antara lain:

  1. Bahwasanya yang berhak disembah hanyalah Allah SWT. Dan Orang yang menyembah selain Nya ialah orang yang musyrik (telah melakukan kesyirikan).
  2. Mengembalikan pandangan Islam terhadap tauhid, yani memurnikan sembahan hanya kepada Allah semata. Dengan demikian, siapapun yang meminta kepada selain Allah dapat dikatakan musyrik.
  3. Bahwasanya menyebut nama nabi, ulama atau bahkan malaikat sebagai pengantar dalam doa adalah bentuk kesyirikan.
  4. Bahwasanya meminta syafaat dan bernadzar kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.
  5. Bahwasanya ketidakpercayaan kepada Qada dan Qadar merupakan bentuk kekufuran.
  6. Bahwasanya mentafsirkan Alquran dengan takwil atau interpretasi bebas tanpa pandangan ulama, adalah termasuk ke dalam bentuk kekufuran.
  7. Demi kembalinya pada pemurnian tauhid, maka kunjungan pada makam-makam mencari syafaat, keberuntungan dan lainnya harus segera dihindari.

Pemikiran-pemikiran wahabiyah berkembang pesat dan diterima dengan baik di seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Beberapa ide wahhabiyah berkembang dengan baik di Indonesia khususnya di ranah Minangkabau. Gagasan-gagasan ini biasanya dibawa oleh para ulama yang pulang dari tanah suci untuk berhaji atau kuliah.

Selain Muhammad bin Abdul Wahab, terdapat beberapa tokoh penting yang berpengaruh dalam pembaharuan Islam. Anda bisa baca selengkapnya di : 20 Tokoh Pembaharuan Islam di Era Modern yang Wajib Anda Ketahui!

2. Perkembangan di Bidang Ekonomi

Perekonomian merupakan faktor utama bagi keberlangsungan kehidupan. Hal ini disadari betul oleh kerajaan Turki Usmani sebagai kerajaan pertama yang melakukan pembaharuan islam. Oleh karenanya, kerajaan Turki Usmani memberikan beberapa kebijakan, di antaranya:

  • Pada periode awal, kerajaan Usmani menargetkan untuk menguasai beberapa jalur perdagangan dan sumber produktif.
  • Kerajaan Usmani menghimbau beberapa saudagar di wilayah Persia, iran dan Laut Merah untuk mensuplai produknya. Kerajaan Usmani juga meminta para saudagar untuk menjadikan Turki Usmani sebagai pusat perdagangan internasional.
  • Membuat beberapa rute haji untuk mengantar warga dari wilayah Turki ke tanah suci. Pada waktu itu, Mekkah juga merupakan pusat perdagangan rempah-rempah, kopi, lada, dan mutiara.
  • Menyediakan sarana transportasi haji di berbagai kota besar seperti Baghdad, Kairo dan damaskus.

Dalam rentang waktu pada abad 15 sampai abad ke-16, pasrah menjadi pusat perdagangan terbesar serta memiliki dermaga Dermaga terbesar untuk melakukan pertukaran barang.

Sedangkan Istanbul mengalami kemajuan dengan rekonstruksi beberapa institusi publik seperti sekolah, rumah sakit, dan lain-lain.

Namun pada abad ke-17 hingga ke-18, terjadi perubahan situasi yang sangat menonjol pada sistem Kerajaan Turki Usmani.

Terjadi peperangan dan perpecahan berkepanjangan antara pemerintah pusat dan pemerintah otonomi. Pecahan tersebut tak lain disebabkan oleh perebutan kekuasaan terhadap pendapatan negara.

3. Perkembangan di Bidang Politik

a. Politik Islam di Dunia Internasional

Dalam melakoni pembaharuan di era modern, Islam tak lepas dari peran penting perpolitikan. Ide politik Islam yang pertama kali dilahirkan di era modern ialah Pan Islamisme.

Pan islamisme atau Persatuan Islam sedunia adalah sebuah perkumpulan politik yang dicetuskan oleh gerakan wahabiyah dan sanusiyah.

Pan islamisme kemudian berkembang lebih pesat setelah dilanjutkan oleh seorang pemikir Islam yang berasal dari Iran, bernama Jamaluddin Al-Afghani.

Jamaludin Al-Afghani adalah negarawan penggagas politik internasional Islam. Pada waktu itu, al afghani menyerukan bahwa kaum muslimin seluruh dunia harus menyatukan barisan dan kekuatannya dalam satu bentuk, yaitu Pan islamisme.

Hal ini tentu menjadi sangat penting demi membentengi umat Islam dari penjajahan kolonialisme barat dan timur.

Al-Afghani juga mengungkapkan, bahwa konsep nasionalisme lah yang membuat Islam menjadi terkotak-kotak menjadi sekian banyak nation-state.

Pengkotakan inilah yang kemudian memudahkan kolonialisme untuk menyerang setiap bagian pecahan tersebut.

Perlahan ide dan gagasan Al-Afghani yang membawa Pan Islamisme mulai masuk ke beberapa negara Islam di Timur Tengah.

Beberapa negara seperti Suriah, palestina, irak, bahrain, mesir, lebanon, dan Kuwait terbentuk dan bersatu berdasarkan kesamaan bahasa. Hingga pada tanggal 12 Maret 1945, dibentuk liga Arab untuk menyatukan negara-negara arab.

Di India, terbentuk gerakan nasionalisme yang dirintis oleh partai kongres nasional India. Dibentuk pula gerakan komunalisme yang dicetuskan oleh komunalisme Islam.

Komunalisme Islam sendiri merupakan cetusan oleh Liga muslimin yang menjadi Rival bagi partai kongres nasional.

Adanya gagasan nasionalisme yang diiringi kekuatan Islam semangat keislaman merupakan modal utama bagi kaum muslimin untuk bangkit dan memerdekakan diri. Semangat itu pun membuahkan hasil.

Terbukti, pada 17 Agustus 1945, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar berhasil memanfaatkan momen kehancuran kolonial Jepang.

Indonesia akhirnya menjadi negara mayoritas muslim pertama yang berhasil memerdekakan diri dan lepas dari genggaman penjajahan.

Di bagian timur tengah, mesir terlebih dahulu mengumumkan bentuk Republiknya pada tahun 1953. Pada tahun itu, republik Mesir benar-benar merdeka setelah hampir 30 tahun terkungkung bayang-bayang Britania Raya.

Di wilayah Afrika, beberapa negara Islam pun menyusul dengan deklarasi kemerdekaannya. Mulai dari Libya, sudan, maroko, hingga Aljazair. Negara-negara di Timur Tengah juga mulai merdeka, seperti Yaman dan Uni Emirat Arab.

Kabar baik kemerdekaan Negara Islam pun terus berlanjut hingga sampai ke wilayah Asia Tenggara. Malaysia merdeka pada tahun 1957, disusul Singapura. Belakangan muncul Brunei Darussalam yang merdeka pada tahun 1984.

Negara-negara mulai menunjukkan kekuatannya. Belakangan, beberapa negara Islam di Asia Tengah – Eropa Timur berhasil memproklamirkan diri dan berpisah dari Uni Soviet.

b. Politik Islam di Tanah Air

Di Indonesia, berkembangnya jiwa nasionalisme diiringi semangat keislaman membuahkan hasil terhadap progres kemerdekaan.

Jauh sebelum pertentangan fisik, beberapa intelektual muslim terlebih dahulu menyatukan kekuatan dengan mendirikan beberapa organisasi dan perkumpulan.

Salah satu perkumpulan Islam pertama yang menjadi motor bagi banyak gerakan adalah Sarikat Islam (SI). Sarekat Islam didirikan oleh HOS Cokroaminoto pada tahun 1912.

Sarekat Islam sendiri merupakan kepanjangan tangan dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh haji Samanhudi pada tahun 1905.

Pengubahan yuridiksi SDI menjadi SI ini tak lain sebagai perluasan cakupan masalah yang pada awalnya hanya menggarap tema sosial dan ekonomi, dengan menambah urusan politik dan agama sebagai konsen pergerakan.

Improvisasi oleh HOS Cokroaminoto pun membuahkan hasil. Terbukti dengan banyaknya tokoh dan negarawan yang kemudian lahir dari SI, meskipun tak sedikit yang menentang dan membuat gerakan baru.

Berawal dari latar belakang Sarekat Islam, beberapa partai politik berhasil didirikan dan dikembangkan. Di antaranya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Soekarno pada 1927, partai Masyumi yang didirikan pada 1943, dan Partai Syarikat Islam Indonesia yang didirikan pada 1947.

Hingga kini, gagasan dan ide Sarekat Islam memberikan pengaruh pada peta perpolitikan di Indonesia. Beberapa partai politik yang berkaitan dengan hulu ideologi dari SI antara lain:

      • Partai Keadilan Sejahtera (PKS), penerus ideologi Masyumi
      • Partai Amanat Nasional (PAN), penerus ideologi Masyumi & Muhammadiyah
      • Partai Bulan Bintang (PBB), penerus ideologi Masyumi
      • Partai Persatuan Pembangunan (PPP), penerus ideologi Masyumi & NU
      • Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), penerus ideologi PNI

Leave a Reply